Jika Maharnya Bukan Seperangkat Alat Sholat dan Al-Quran, Lantas?

By Rurintana, 15/01/2016

Awalnya, saya tidak tahu mau menulis tentang apa. Iseng-iseng saya membuka salah satu akun jejaring sosial. Sebut saja facebook. Nama asli ya, bukan nama samaran seperti bunga, mawar, melati semuanya indah (jadi mawar, melati atau indah?). Dan satu lagi, ini bukan endorsement. Pun facebook sudah jauh lebih terkenal dari pada saya. Saya, ibarat lirik lagu Cita Citata ‘Aku mah apa atuh’.

Berita terbaru di beranda saya masih sama dengan sekitar lima jam yang lalu. Refresh beberapa saat. Perkiraan saya berita yang pertama muncul masih seputar terorisme. Mengingat #PrayForJakarta dan sejenisnya sedang booming kemarin. Walaupun tidak lama berselang, #PrayForJakarta sudah kalah pamornya dengan #PolisiGanteng. Well, untuk masalah kekonyolan, Indonesia Juara!

Kembali ke berita di beranda. Jadi apa yang saya temukan? Berita pertama yang muncul adalah share artikel salah seorang teman dengan tema pernikahan. Mahar lebih tepatnya. Artikel tersebut mengulas mengenai konsekuensi dari mempelai pria apabila memberi mahar berupa seperangkat alat sholat dan kitab suci Al-Quran. Isi sebagian artikel tersebut begini :

Ketika seorang mempelai pria mengucapkan ‘Saya terima nikah dan kawinnya fulanah binti fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan mushaf Al-Quran”, ada ‘beban’ baru yang dipikulnya. Beban itu adalah sang suami berkewajiban untuk mengajarkan sholat kepada sang istri yang disimboli dengan pemberian seperangkat alat sholat. Suami juga berkewajiban untuk menjaga sholat istrinya dengan terus mengingatkannya dan membimbingnya supaya tidak melewatkan kewajiban yang satu ini. Karena sholat adalah amalan pertama kali yang akan dihisab pada yaumul hisab kelak. Begitu pula dengan mas kawin berupa mushaf Al-Quran. Mungkin bagi sebagian orang dua mahar ini dianggap sebagai mahar yang murah meriah dan mudah didapatkan di negara yang mayoritasnya muslim ini. Tapi sebenarnya mahar mushaf Al- Quran adalah mahar termahal yang diberikan seorang suami kepada istrinya. Mengapa? Karena dengan memberikan mushaf Al-Quran, berarti suami wajib untuk mengajarkan istrinya semua isi dari Al-Quran yang diberikannya kepada istri dari surat Al-Fatihah hingga surat An- Naas.

Seperangkat alat sholat dan kitab suci Al-Quran. Gambar diambil dari dailymoslem.com

Seperangkat alat sholat dan kitab suci Al-Quran Gambar diambil dari dailymoslem.com

Agaknya, kalimat dalam artikel tersebut sedikit anu bagi saya. Mengajarkan sholat kepada istri itu baik. Mengingatkan dan membimbing istri untuk menjaga sholat itu bagus. Mengajarkan Al-Quran dari Al-Fatihah sampai An-Naas itu istimewa. Ketiga-tiganya dilakukan itu Super Sekali. Sumacumlaude, saya beri standing applause. Yang agak mengganjal bagi saya,

‘jika maharnya bukan seperangkat alat sholat dan Al-Quran, lantas apakah yang dikatakan wajib dalam artikel itu menjadi sunnah dan atau tidak perlu dilakukan seorang suami kepada istrinya?’

Sebenarnya saya tidak begitu sependapat tentang arti mahar itu. Pengetahuan agama yang tidak tinggi (katakanlah tidak lebih tinggi dari tinggi badan saya), membuat saya tidak berani mengulasnya lebih mendalam. Pun saya juga tidak mau memicu perdebatan di media sosial. Saya tidak berkeinginan #SaveJakarta kemarin berganti menjadi #SaveRurintana nantinya. Saya hanya berusaha memberikan sudut pandang dengan mempertanyakan, benarkah demikian?

 

Incoming search terms:

  • cincin dan seperangkat alat sholat uang untuk mahar nikah
  • Foto mahar se
  • foto mas kawin seperangkat alat solat sederhana
  • foto maskawin seperangkat alat sholat
  • gamabar maskawin seperangkat alat solat dan kalung
  • konsekuensi dari berbagai mahar
  • mahar seperangkat alat shalat model mekah
  • seprangkat alat al qur an

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *